BREAKING NEWS
Showing posts with label topik. Show all posts
Showing posts with label topik. Show all posts

Wednesday, July 1, 2015

Eco Green GP GPIB 2015



Masalah lingkungan yang semakin besar, meluas, dan serius ibarat bola salju yang menggelinding, semakin lama semakin membesar. Melihat fenomena tersebut, Gerakan Pemuda/i GPIB melalui Programnya melaksanakan sebuah acara bertajuk ECO GREEN GP GPIB 2015.

Eden Siahaan selaku Ketua Dewan Gerakan pemuda GPIB (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat) menjelaskan, sebagai usaha menciptakan solusi masalah lingkungan hidup melalui Pemuda/i GPIB, dengan memfokuskan kegiatan Pemuda GPIB tahun ini dengan membentuk sebuah kegiatan yang dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya lingkungan hidup dan menjadi solusi untuk masalah lingkungan hidup yaitu Eco Green


Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 13-14 Juni 2015 ini mengusung sub tema “Kill Your Ego, Keep Your Eco", dimana kita sebagai manusia diharapkan dapat lebih memiliki ksadaran lebih terhadap lingkungan hidup.  Masalah lingkungan tidak dapat lagi dapat dikatakan sebagai masalah yang semata-mata bersifat alami, karena manusia memberikan faktor penyebab yang sangat signifikan secara variabel bagi peristiwa-peristiwa lingkungan.Salah satu masalah lingkungan hidup yang sangat terkait dengan manusia ialah “Sampah”. Volume sampah yang meningkat dan tidak segera dikelola akan berdampak buruk terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Hadir sebagai Koordinator penyelenggaraan ECO GREEN GP GPIB 2015 kali ini, Saudara Gerry Sagala. Dalam rangkaian kegiatan Eco Green ini, dijelaskan Gerry, terbagi dalam 2 tahap. Pada Hari pertama tanggal 13 Juni 2015, bertempat di Villa Shekinah. Limo - Depok, diberikan penyuluhan tentang sampah dan tanaman hidroponik, 4R ( Reduce, Reuse, Recycle, Replace ) dan pengolahan sampah daun kering menjadi pupuk kompos kepada para peserta yang datang dari berbagai penjuru Indonesia.


Kegitan pada hari kedua (14/06/2015) dilakukan Kampanye Bersih dengan
 memungut sampah di sebagian kecil kawasan Thamrin - Sudirman di tengah kegiatan Car Free Day dan dilanjutkan  penanaman 1500 bibit mangrove di pantai Marunda, Jakarta Utara. 

Gerry Sagala menjelaskan  penanaman mangrove menjadi salah satu poin acara, “Karena mangrove merupakan salah satu penjaga pesisir kita dari pengikisan, green belt nusantara yang mungkin banyak orang tidak sadar bahwa pelan-pelan daratan akan terkikis oleh laut ”.

Kegiatan ini pun cukup terbilang sukses, terbukti dengan banyaknya simpatisan dan voulentir yang mengikuti kegiatan ini, namun sangat disayangkan keadaannya berbanding terbalik dengan jumlah peserta yang kurang dari target.bs/at








Sumber : www.radiopelitakasih.com

Tuesday, June 30, 2015

Gereja Hillsong Dukung Gay



Pernyataan pendeta senior Hillsong, Brian Houston pada konferensi pers di New York City, Kamis (16/10/2014) dalam menyikapi posisi dan pandangan gerejanya terhadap kaum gay mendapat sorotan. Secara tersirat, Houston mengungkapkan gereja Hillsong bertolak belakang dengan pandangan gereja bahwa hubungan sesama jenis adalah dosa. Akibat dianggap mendukung gay, posisi gereja hillsong dipertanyakan

Houston menyatakan bahwa terdapat tiga hal yang patut dikoreksi terkait isu gay tersebut, yakni relevansi gereja dengan tantangan saat ini, beban penolakan yang di alami kaum gay serta perkataan firman Tuhan. “Terlalu penting bagi kita memandang masalah-masalah nyata di tengah kehidupan hanya dengan jawaban ‘ya’ dan ‘tidak’ sebagai jalan keluar,” terang Houston menentang pandangan Presiden The Southern Baptist Theological Seminary Albert Mohler, yang mengatakan bahwa tak ada ‘Cara Ketiga’ bagi gereja untuk mendukung kaum gay kecuali posisi ‘ya’ atau ‘tidak’.

Senada dengan Houston, pendeta Hillsong Carl Lentz menuturkan bagaimana gereja besar yang identik dengan kaum muda itu, diantaranya dihadiri oleh banyak kaum gay hampir setiap pekan. Ia beralasan bahwa kondisi itu sangat relevan di masa-masa Yesus. “Yesus berada di tengah-tengah era dimana homoseksualitas, seperti sekarang ini, banyak terjadi. Dan saya masih menunggu seseorang menunjukkan kutipan di mana Yesus pernah berbicara tentang hal itu di depan banyak orang ? Anda tak akan menemukannya dalam alkitab karena Yesus tak pernah melakukannya,” ucap Lentz, seperti dikutip dari Huffingtonpost.com, Senin (20/10/2014).

Demikian pula disampaikan oleh istri Lentz tentang bagaimana gereja Hillsong tidak ambil bagian untuk menentukan jalan hidup para pemuda yang hidup dalam homoseksual. “Ini bukan urusan kita untuk memberitahukan siapapun bagaimana mereka harus hidup. Itu adalah perjalanan hidup mereka”.

Laporan majalah new york times menyebutkan :
( Some of Hillsong’s churches appear to be open to gays and lesbians. Josh Canfield and Reed Kelly, a gay couple featured on the current season of “Survivor;” worship and sing in the choir at Hillsong New York; Mr. Canfield is a volunteer choir director at the church. Mr. Houston’s comments were welcomed by Matthew Vines, a young gay evangelical who is trying to persuade the evangelical world that faith in the Bible is not at odds with openness to gays and lesbians. )

Terjemahan – Beberapa gereja Hillsong tampaknya terbuka untuk kaum gay dan lesbian. Josh Canfield dan Reed Kelly, pasangan gay yang pada musim ini tampil dalam acara “Survivor”, Terlihat melayani dalam sebuah ibadah dalam team pelayanan paduan suara di Hillsong New York; Mr Canfield adalah relawan yang menjadi Choir Director paduan suara di gereja tersebut. Komentar Pak Houston disambut oleh Matthew Vines, seorang evangelis muda gay yang mencoba untuk membujuk dunia evangelis bahwa iman dalam Alkitab tidak bertentangan dengan keterbukaan terhadap kaum gay dan lesbian.

(link terkait : http://www.nytimes.com/2014/10/18/us/megachurch-pastor-signals-shift-in-tone-on-gay-marriage.html)

Kasus hubungan sesama jenis memang terus menjadi sorotan besar gereja. Pasalnya, gereja masih berbeda pandangan soal sikap dan tindakan yang pantas bagi kaum gay. Salah satunya seperti pendeta Danny Cortez dari New Heart Community Church di California. Dalam khotbahnya ia menyatakan sikap bahwa dirinya tak lagi percaya homoseksual dipandang sebagai dosa. Pernyataan itu sontak memicu kontroversi hingga harus menerima risiko dirinya dipecat. Sedangkan denominasi gereja itu memutuskan untuk mengambil sikap penolakan terhadap homoseksual.

Terkait ‘Cara Ketiga’ atau dukungan penerimaan gereja terhadap kaum gay, Albert Mohler Jr dengan tegas menyampaikan dalam artikelnya bahwa gereja lebih baik percaya dan mengajarkan bahwa hubungan sesama jenis adalah dosa. Hal ini jelas sangat bertolak belakang dengan pandangan pendeta Houston, sehingga dianggap penting agar persoalan ini dibahas bersama para pemimpin gereja terlebih dahulu, seperti yang saat ini tampak sedang berjalan.

Belakangan ini persoalan homoseksual memang menjadi isu yang semakin memanas di tengah gereja. Pandangan yang berbeda soal penerimaan terhadap kaum gay sepatutnya tetap didasarkan pada firman Tuhan. Meskipun Yesus tidak pernah secara langsung menentang homoseksual atau membicarakan mengenai homoseksalitas dalam alkitab, tapi di dalam Perjanjian Baru Rasul Paulus dengan jelas mengutuki cara hidup demikian

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah” (I Korintus 6:9-10)

Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? (Matius 19:4)

Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka. (Roma 1 : 26-27)

Alkitab dengan jelas menentang hubungan sesama jenis, baik laki laki dengan laki laki (homoseksual) atau perempuan dengan perempuan (Lesbian). Sudah seharusnya kita sebagai pengikut Kristus, Gereja Tuhan yang dewasa, mengambil sikap yang jelas dan tegas bahwa pernikahan sejenis adalah dosa dan sebuah kesesatan.

Di waktu waktu terakhir seperti jaman sekarang ini kita harus selalu waspada dan berjaga jaga terhadap banyaknya pengajaran – pengajaran palsu yang menyesatkan, para hamba – hamba Tuhan palsu, nabi – nabi palsu, dibutuhkan keyakinan yang teguh dan kedewasaan rohani sehingga kita tidak akan gampang di ombang ambingkan oleh berbagai macam pengajaran yang menyesatkan dan menentang kebenaran. Kita hidup di akhir jaman dimana kedatangan Tuhan Yesus yang ke dua kalinya sudah semakin dekat, berdoa dan berjaga jaga lah.




Sumber : www.timeofgod.net

Friday, August 1, 2014

Sejarah Kekristenan di Timur Tengah

Peta populasi orang Kristen di Timur Tengah. (Sumber: bbc.co.uk

SATUHARAPAN.COM – Pengusiran orang Kristen di Mosul, Irak oleh Khalifah Islam Irak-Suriah serta peran aktif Gereja Saint Porphyrius di Gaza dalam menolong pengungsi Muslim Palestina mungkin membuat kita penasaran asal mula munculnya orang Kristen ada di kawasan Asia Barat Daya (atau lazim disebut sebagai Timur Tengah).

Sebenarnya sebagian besar lokasi kisah-kisah dalam Injil ada di Timur Tengah. Yesus lahir di Betlehem—kini ada di kawasan Negara Palestina. Dibesarkan di Nazaret—kini ada di Israel dan mati di Yerusalem—kini disebut Yerusalem Timur. Menurut Kitab Matius, Yesus kanak-kanak sempat mengungsi ke Mesir, Afrika. Ada petilasan di Kairo yang didedikasikan kepada keluarga Kudus ini.

Setelah Yesus naik ke surga, murid-murid-Nya menyebar ke penjuru dunia. Kisah Para Rasul mencatat kejadian yang menarik. Pada Pasal 2:7-11 tertulis, “Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata, ‘Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa tempat kita dilahirkan; kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libya yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.’”

Setidaknya ada 15 bangsa dan negara disebutkan dalam lima ayat tersebut. Partia, Media, Mesir, dan Libya adalah daerah-daerah yang membentang dari Timur Tengah hingga Afrika bagian utara. Secara spesifik disebut juga etnis Arab dalam cerita tentang pencurahan Roh Kudus pada perayaan Pentakosta tersebut.

Jika Paulus menyebarkan Injil Kristus mengarah ke Barat, ke pusat pemerintahan Romawi—kota Roma—dan akhirnya menyebar ke seluruh Eropa. Rasul-rasul dicatat menyebarkan kekristenan ke Timur. Matius dikenal sebagai penyebar kekristenan di Suriah dan Persia (Partia—kini Iran), Thomas dikenal menyebarkan Injil sampai ke India. Rasul Filipus sangat dihormati di kalangan Kristen di Gaza dan Ethiopia.

Setelah penganiayaan para pengikut Kristus meningkat seiring dengan kematian Yesus Kristus—juga kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga—pusat kekristenan bergeser ke Antiokhia. Sebuah kota metropolitan di kekaisaran Roma. Kini Antiokhia dikenal sebagai Antakya yang terletak di perbatasan Turki dan Suriah.

Banyak di antara gereja-gereja di Timur mengaku sebagai anak gereja dari Gereja Antiokhia ini. Misalnya Gereja Ortodoks Siria (kini dianut banyak orang Kristen Suriah, Irak, dan Iran), Gereja Khaldean (banyak dianut penduduk Mosul Irak), Gereja Ortodoks Yunani (mayoritas penganut ada di Turki, Palestina, Yordania), Gereja Koptik di Mesir dan Ethiopia, dan Gereja Armenia (banyak dianut di Iran dan Armenia).

Pada abad keenam, lahirlah agama Islam di jazirah Arab dan dianut oleh suku-suku di daerah itu. Agama baru ini membawa kesatuan warga di wilayah yang selama ini dirundung pertikaian. Seiring dengan perluasan kekhalifahan kondisi ini memengaruhi gereja-gereja-gereja di kawasan Timur Tengah walaupun tidak ada pemaksaan untuk menganut kepercayaan baru. Sebab, Islam menghormati Yesus sebagai salah satu nabi Allah.

Namun, keadaan menjadi berat bagi kekristenan Timur Tengah terutama oleh perkembangan teologi Kristen dan timbul berbagai mazhab yang diperparah dengan persaingan antara gereja Timur dan Barat. Pada 1054, gereja yang berpusat di Roma dan yang berpusat di Konstantinopel (kini Istanbul—Turki) memutuskan untuk berpisah. Selain karena dogma yang berbeda juga karena persaingan kekuasaan antara Uskup Roma (Paus) dan Uskup Konstantinopel. Namun, pada 2025 akan diselenggarakan Konsili Nicea untuk menyatukan Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Yunani.

Tidak lama setelah pemisahan tersebut, terjadi Perang Salib—perang perebutan wilayah antara kerajaan-kerajaan di Eropa melawan Khalifah Islam. Perang-perang tersebut benar-benar menyengsarakan orang-orang Kristen di Timur Tengah.

Bagi orang Kristen Timur Tengah, Perang Salib tidak membawa keuntungan apa pun. Di mata prajurit Barat orang Kristen Timur Tengah adalah mereka yang menyimpang dari ajaran yang benar terutama karena mereka tidak menerima otoritas Paus.

Terjadi pembunuhan besar-besaran baik atas orang-orang Islam maupun atas orang-orang Kristen Timur Tengah, antara lain di Antiokhia (1098), Yerusalem (1099), Kaisarea (1101), Beirut (1110), Edessa (1146), Yerusalem (1244), Antiokhia (1268), Tripoli (1289), Akko (1291), dan Aleksandria (1365).

Akibat lainnya adalah hubungan antara orang Kristen Timur Tengah dengan penguasa Islam setempat. Sebab, mereka dicurigai sebagai orang yang dahulu pernah mendukung musuh—pasukan Salib karena dianggap seagama—kondisi ini yang masih terus terjadi hingga masa modern ini.

Dua Perang Dunia Makin Menyengsarakan

Berakhirnya Perang Dunia Pertama yang ditandai dengan runtuhnya Kekhalifahan Ustmaniyah (Kekaisaran Ottoman Turki) membawa korban di antara orang Kristen Timur Tengah.

Ustmaniyah menanggapi kekalahannya melawan Rusia di Armenia dan Kaukasus, dengan menyerang minoritas Armenia yang mayoritas menganut agama Kristen. "Ada dua alternatif: Armenia akan melibas Turki, atau Turki akan melibas mereka," tulis pejabat Ustmaniyah Mehmed Resid dalam memoarnya.

"Dihadapkan dengan kebutuhan untuk memilih, saya tidak lama ragu-ragu. Sebelum mereka melakukan dulu kepada kami, kami akan menyingkirkan mereka."

Sebanyak dua ribu pemimpin Armenia ditangkap dan dibantai di Istanbul pada 24 April 1915. Peristiwa ini digambarkan sebagai genosida pertama abad ke-20. Meskipun negara Turki saat ini membantah istilah itu.

Dalam kurang dari satu tahun, ratusan ribu dipaksa mengungsi, harta benda mereka disita, dan banyak dari mereka tewas.

Armenia didukung banyak sejarawan dan sejumlah parlemen asing menyebutkan hingga 1,5 juta orang Armenia dibunuh secara sistematis di hari-hari terakhir Kesultanan Ottoman. Bersamaan dengan itu juga terjadi genosida terhadap orang-orang Yunani dan Asyiria—mereka juga menganut Kristen—di wilayah Ustmaniyah. Wilayah Kekaisaran Ottoman menjadi koloni pemenang perang: Inggris dan Prancis.

Mendekati dan setelah Perang Dunia II usai, negara-negara koloni Inggris dan Prancis memberontak dan menetapkan kemerdekaanya. Mesir, Lebanon, Yordania, Irak, dan Siprus. Kemerdekaan bangsa-bangsa tersebut seiring dengan meningkatnya kesadaran nasionalisme Arab.

Kristen Timur Tengah Kini

Seiring meningkatnya ekstremisme penganut Islam di daerah itu dan campur tangan terlalu dalam pihak Barat—yang banyak didasari kepentingan ekonomi—penganiayaan terhadap komunitas Kristen di Timur Tengah makin berat. Ada yang mengatakan bahwa penganiayaan ini belum pernah terjadi bahkan saat masa kekhalifahan Ustmaniyah.


Sumber: www.satuharapan.com

Dukungan Indonesia pada ISIS


SATUHARAPAN.COM - Dalam beberapa pekan terakhir, dukungan kelompok garis keras di Indonesia terhadap Negara Islam Irak dan Suriah, Islamic State Is Solution (ISIS), menjadi perhatian, banyak kalangan yang mengkhawatirkan penyebaran ideologi radikal ini, akan membahayakan keberagaman masyarakat Indonesia.

Di Indonesia, kelompok Islam garis keras di Indonesia mulai secara terbuka memberikan dukungan terhadap Abu Bakr al-Baghdadi, pemimpin Negara Islam Irak dan Suriah ISIS yang mendeklarasikan kekhalifahan Islam.

Dukungan terbaru disampaikan oleh kelompok Islam antara lain di Jakarta, Solo, Bima dan terakhir Malang Jawa Timur pada Minggu (20/7) lalu.

Kelompok yang menyebut dirinya Ansharul Khilafah Jawa Timur, mendeklarasikan dukungan terhadap kekhalifahan Islam Irak dan Suriah ISIS, di sebuah masjid yang baru selesai di bangun.

Puluhan orang yang hadir sebagian besar anak-anak muda dan sejumlah perempuan bercadar, serta anak-anak, beberapa diantaranya menggunakan atribut yang bergambar mirip bendera ISIS.

Koordinator Ansharul Khilafah Jawa Timur, Muhamad Romly mengatakan mendukung kekhalifahan Islam yang dideklarasikan Abu Bakr al-Baghdadi.

"Kami mendukung kekhalifahan Islam karena dapat membangun peradaban Islam yang lebih baik. Menurut Romly, hanya sebatas memberikan dukungan moral, bukan dana ataupun mengirimkan jihadis ke Suriah ataupun Irak.

"Kami tidak memberikan dukungan dana, kami juga tidak mengirimkan orang untuk (jihad) kesana karena juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit," kata dia.

Romly menyakini Daulah Khilafah dapat membangun peradaban Islam yang lebih baik.

Usai deklarasi, mereka membagikan majalah Al Mustaqbal dan stiker dengan gambar yang menyerupai bendera ISIS.

Perubahan Aturan
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebutkan, kelompok yang menyatakan kurang dari 20 kelompok Islam dan 50 orang pergi 'berperang' dengan ISIS. Penyebaran dukungan untuk ISIS pun dilakukan melalui media sosial. Di sejumlah daerah disebutkan bendera ISIS dikibarkan dalam beberapa kesempatan.

"Kami memantau mereka, dan juga meminta adanya keterlibatan masyarakat untuk mencegah penyebarluasan kelompok radikal yang mendukung ISIS di Indonesia," kata Deputi bidang Kerjasama Internasional BNPT Harry Purwanto.

Menurut Harry, deklarasi mendukung Kekhalifahan Islam di Irak dan Suriah yang marak dilakukan akhir-akhir ini, karena kelompok mereka membutuhkan dukungan yang lebih luas.

Kondisi itu, meningkatkan kekhawatiran banyaknya anak-anak muda Indonesia, yang akan pergi ke Suriah dan Irak bergabung dengan pasukan ISIS, dan melakukan serangan teror ketika mereka kembali, seperti yang terjadi dengan para jihadis Jemaah Islamiah yang kembali dari Afghanistan.

Dalam peraturan anti terorisme di Indonesia tidak mengatur pengatur berkembangnya paham radikalisme di Indonesia. "Kita harus mengamandeman UU agar dapat mencegah penyebaran paham radikal," kata Harry.

Analis mengatakan Indonesia menghadapi tantangan besar untuk mengatasi meningkatnya ideologi radikal terutama di kalangan anak-anak muda, yang dikhawatirkan bisa mengancam keberagaman

Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Agus Rianto hari Kamis (31/7) mengatakan, lembaganya saat ini sedang berkoordinasi dengan Kementerian komunikasi dan Informatika terkait soal beredarnya video di youtube yang berisi ajakan bergabung dengan kelompok ekstrimis Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang dilakukan warga negara Indonesia.

Direktur Aliansi Indonesia Damai yang juga pemerhati masalah Timur Tengah dan Dunia Islam Hasibullah Satrawi mengatakan, ISIS telah melihat kelompok-kelompok radikal di Indonesia untuk bergabung dengan mereka. Untuk itu dia meminta pemerintah harus benar-benar mewaspadai dan mengantisipasinya.

BNPT pun mengambil langkah antisipatif untuk mencegah bergulirnya aksi teror di Indonesia, termasuk bekerja sama dengan beberapa negara. (VOA Indonesia, bbc.Indonesia)


Sumber : www.satuharapan.com | Editor : Bayu Probo

Tuesday, July 15, 2014

Pesan HUT 64 Tahun Pelkat GP GPIB


PERSOALAN DAN TANTANGAN TERATASILAH OLEH HIKMAT DARI TUHAN



Kepada yang kami hormati, 
Pelayan Firman Tuhan
Kepada yang kami hormati, 
para Diaken dan Penatua
Kepada yang kami hormati, 
para orang tua sekalian

Kepada yang kami banggakan, segenap Anggota dan Pengurus Gerakan Pemuda









Salam Damai Sejahtera buat kita semua,


Di tengah-tengah permasalahan kehidupan yang ada di keluarga, masyarakat, gereja, bangsa & negara sampai global, mari sama-sama kita melihat, profil seperti apakah yang diharapkan berkembang di usia 18 – 35 tahun?

Memiliki Benteng iman yang kokoh, Berbelarasa, Dinamis, Terus Menerus Diperbaharui, Kader Keluarga, Gereja dan Masyarakat.

§  Benteng Iman
Bicara tentang ‘benteng’ berarti bicara tentang pertahanan. Bicara tentang pertahanan berarti bicara kekuatan. Kekuatan terhadap apa? Terhadap ancaman yang berada di luar benteng. Dapat menghancurkan apa saja yang berada di dalam benteng. Termasuk jati diri kita.
“Apa jati diri kita?” Kalau ada pertanyaan semacam itu, maka layak dipertanyakan kembali apa yang engkau ucapkan pada saat peneguhan sidi. Jelas, jati diri ini cerminan Yesus Kristus yang telah mati di kayu salib menebus dosa setiap manusia, dikuburkan dan bangkit kembali pada hari ketiga mengalahkan maut untuk keselamatan kita.
Kita harus mempertanggungjawabkan keselamatan itu kepada diri kita sendiri, keluarga, gereja, masyarakat, lingkungan hidup dan Allah Bapa tentunya.
Jadi, jati diri kita adalah manusia yang bersyukur atas perolehan keselamatan dengan menghadirkan kerajaan Allah di muka bumi.
Jati diri Pemuda dapat hancur seketika atau lambat, apabila tanpa benteng pertahanan yang kokoh. Benteng pertahanan yang kokoh berupa keimanan akan kebenaran mutlak jati diri tersebut walau apapun yang terjadi di luar. Tidak dapat ditawar dengan apapun sehingga jati diri itu tidak hancur.
Dibutuhkan kedekatan dengan Allah Putra yaitu Yesus Kristus, keintiman dengan Allah Roh yaitu Roh Kudus dan keilahian akan Allah Bapa yaitu Bapa di surga. Hingga kita bisa memperkuat Benteng iman ini melalui kecerdasan spiritual.

  • Berbela Rasa
Iman tanpa perbuatan seperti omong kosong. Kalau banyak bicara tentang keimanan tanpa perbuatan, maka sebutan tong kosong nyaring bunyinya sangat tepat bagi orang yang demikian. Insan Pemuda tidak hanya mampu berakar kuat, tapi juga mampu bersayap untuk terbang sejauh mungkin. Jati diri / prinsip / filosofi keTuhanan / teologi kita bukan hanya untuk kita. Keselamatan itu bukan untuk kita saja. Keselamatan itu harus kita pertanggungjawabkan dengan rasa syukur dan berbela rasa dengan sesama. 
Hanya saja kita jangan sampai ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu yang tidak tulus.
Ingat saja yang tertulis pada Matius 10:16 yaitu “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” Untuk itulah, guna meningkatkan kecerdasan spiritual, maka kecerdasan sosial kita juga harus dipertajam.
  • Dinamis
Dunia ini terus berputar mengiring kehidupan yang berbeda dari jaman ke jaman sampai sekarang ini. Perubahan demi perubahan selalu terjadi sebagai hasil pemikiran manusia yang melahirkan budaya atas keadaan di sekitarnya. Sepertinya tidak ada yang abadi kecuali ketidakabadian itu sendiri. Apa yang dihadapi oleh para murid Yesus, jemaat mula-mula dengan orang Kristen sekarang berbeda. Tantangan Pemuda tahun 1970-an dengan pemuda angkatan 2010-an berbeda. Dibutuhkan suatu gerakan yang tidak terjebak dalam rutinitas belaka.
Ketanggapan dan menciptakan peluang merupakan langkah awal dari sebuah kedinamisan.
Tidak mungkin Gerakan Pemuda GPIB yang lahir pada 15 Juli 1950 itu tetap ada sampai sekarang kalau tidak ada kedinamikaan dari setiap insannya sebagai ungkapan syukur atas keselamatan Allah Bapa.

  • Terus Menerus Diperbaharui
Insan Pemuda pada hakikatnya juga manusia. Tidak ada manusia yang sempurna. Di tengah-tengah kedinamikaannya, dapat saja jatuh.
Jati dirinya hilang. Kepekaan dan kekritisan memudar. Yang dulu dinamis, kini melambat. Yang statis, semakin tenggelam bahkan terlindas jaman.
Biarkan diri kita diam sejenak untuk melihat kembali hakikat keberadaan kita yang sebenar-sebenarnya. Yaitu orang yang telah memperoleh keselamatan dan harus mempertanggungjawabkan keselamatan tersebut bagi kemuliaan Allah Bapa. Biarkan diri kita untuk terus diperbaharui. Agar kita dapat “sehat” kembali.

  • Kader Keluarga Gereja & Masyarakat
Pada saatnya, tanpa disadari, melalui orang-orang terdekat, Tuhan telah mempersiapkan kita untuk terus menerus menghadirkan Kerajaan Allah di muka bumi. Mulai dari yang terkecil, diri kita sendiri, keluarga, gereja dan bukannya tidak mungkin juga di masyarakat bahkan dunia. Kita menjadi kader Kristus sampai kita kembali menghadap kepadaNya. Allah Bapa mendapati kita tetap setia.

Bersama Sang Pemuda Agung Yesus Kristus kita berupaya untuk semua itu di tengah-tengah keberadaan kita dan permasalahan kehidupan. Jangan berhenti, jangan goyah! Persoalan dan tantangan teratasilah oleh hikmat dari Tuhan.

Selamat ulang tahun yang ke-64!
Dirgahayu Gerakan Pemuda GPIB!
Tuhan memberkati gerak pelayanan kita bersama!


Jabat hangat
Dewan Gerakan Pemuda 2010 – 2015
Eden, Erino, Cynthia, Vivianita, Renzi, Irene, Rudolf, Daniel



Wednesday, June 4, 2014

Prediksi Calon Menteri 2014-2019



Jakarta - Sejumlah tokoh sudah mulai disebut-sebut bakal menjadi menteri pada kabinet mendatang, baik yang merapat ke poros Prabowo Subianto-Hatta Rajasa maupun Joko Widodo-Jusuf Kalla (JK). Menurut survei yang dilakukan Soegeng Sarjadi School of Government (SSSG), nama-nama mulai dari Dahlan Iskan, Anies Baswedan, Jimly Ashiddiqie, Todung Mulya Lubis, hingga wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil masuk dalam potensi menteri di kabinet mendatang. 

"Lalu kami bikin pertanyaan tentang nama-nama menteri siapa yang pantas untuk menjabat menteri di kementerian yang kami anggap penting. Surveinya kami lakukan semi tertutup dengan menyebutkan nama-nama yang ada dalam kabinet bayangan," ujar Direktur Eksekutif SSSG Fadjroel Rachman dalam jumpa pers di Hotel Four Season, Jakarta Selatan, Kamis (5/6/2014). 

Survei SSSG dilakukan dengan metode pengumpulan data yakni wawancara via telepon pada 26 Mei-04 Juni. Respondennya berjumlah 1.250 orang yang tersebar di 10 kota besar yaitu DKI Jakarta, Surabaya, Bandung, Balikpapan, Bali, Medan, Makassar, Semarang, Palembang dan Yogyakarta. 

Karakteristik responden yakni berbanding 50:50 antara laki-laki dan perempuan, yang sudah punya hak pilih usia 17 tahun ke atas berprofesi mayoritas ibu rumah tangga dan pegawai swasta. Survei dilakukan dengan tingkat keyakinan 95%, dan sampling error +/- 2,78%.

Berikut nama-nama yang layak masuk kabinet versi SSSG: 


Menteri PU:
Dahlan Iskan 50%
Bambang Sukartono (wamenhub) 2%
Hendrawan S (timses ekonomi) 1%
Hermabto D 5%
Lain-lain 5%
Tidak tahu 42%


Meteri Kesehatan:
Ratna Sitompul (dekan FK UI) 9%
Pratiwi S (Wadekan FK UI dan mantan calon astronot) 11%
Nafsiah Mboi 13%
Ribka Tjiptaning 4%
Tidak tahu 60%
 
Copyright © 2014 GP Pancaran Kasih Depok